Mengapa Brand Sulit Masuk Media Tier 1?

Banyak brand berpikir bahwa masuk ke media besar hanya soal mengirim press release atau memiliki produk yang bagus. Padahal, realitanya brand sulit masuk ke media besar karena media tier 1 memiliki standar editorial yang ketat. Tak hanya itu, mereka juga menerima ratusan pitch setiap hari dari berbagai brand dan PR agency.

Inilah alasan mengapa banyak brand merasa kesulitan mendapatkan exposure di media tier 1, meski sudah aktif melakukan campaign dan publikasi. Lantas, sebenarnya apa yang membuat sebuah brand sulit dilirik media besar? Penasaran? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Brand Sulit Masuk Media Tanpa “News Value”

Kesalahan paling umum adalah brand terlalu fokus menjual produk, bukan menghadirkan cerita yang layak diberitakan. Perlu dipahami, bahwa media tidak mencari brand. Media mencari cerita yang menarik untuk audiens mereka.

Sayangnya, banyak materi publikasi masih berisi:

  • Konten yang terlalu promosi.
  • Klaim sepihak tentang keunggulan brand.
  • Informasi yang tidak relevan dengan isu terkini.

Akibatnya, pitch tersebut terlihat seperti iklan, bukan berita.

Untuk bisa lebih menarik bagi media Tier 1, brand perlu memiliki angle yang lebih kuat, seperti dampak sosial, perubahan perilaku konsumen, tren industri, atau insight yang relevan dengan situasi saat ini.

2. Angle Terlalu “Brand-Centric” Sulit Masuk Media

Banyak brand masih menggunakan pendekatan seperti:

  • “Kami launching produk baru”
  • “Kami terbaik di industri”
  • “Kami menghadirkan layanan terbaru”

Padahal, media lebih tertarik pada hal yang memberikan value untuk pembaca.

Media ingin tahu:

  • Apa dampaknya bagi masyarakat?
  • Apakah ada insight baru?
  • Apakah ini berkaitan dengan tren industri?

Semakin sebuah cerita terasa hanya tentang brand, semakin kecil kemungkinan media akan tertarik mengangkatnya. Oleh karena itu, penting untuk mengubah pendekatan komunikasi dari sekadar promosi menjadi storytelling yang relevan dan informatif.

3. Tidak Relevan dengan Audiens Media

Setiap media memiliki karakter yang berbeda. Ada media yang fokus pada bisnis, teknologi, lifestyle, ekonomi, hingga isu sosial. Tak hanya itu, masing-masing media juga memiliki target audience, gaya editorial, dan fokus topik tertentu. Inilah mengapa satu materi publikasi tidak bisa dikirim secara massal tanpa penyesuaian.

Brand sulit masuk media Tier 1 karena tidak memahami kebutuhan media yang dituju. Akibatnya, topik yang dikirim terasa tidak relevan dengan audiens mereka. Pitch yang baik adalah pitch yang dipersonalisasi dan disesuaikan dengan karakter media.

4. Brand Tidak Memiliki Diferensiasi Sulit Masuk Media

Media tier 1 menerima sangat banyak informasi setiap harinya. Jika sebuah brand terlihat mirip dengan kompetitor lain, maka peluang untuk diliput akan semakin kecil.

Tanpa diferensiasi yang jelas, cerita brand akan kalah dengan angle lain yang lebih segar dan unik. Brand perlu memiliki POV (point of view) yang kuat, misalnya:

  • Pendekatan bisnis yang berbeda.
  • Insight unik dari industri.
  • Solusi baru terhadap masalah tertentu.
  • Perspektif yang belum banyak dibahas.

Semakin fresh sebuah cerita, semakin besar peluang media tertarik mengangkatnya.

5. Tidak Memiliki Data atau Insight yang Kuat

Media tier 1 sangat menyukai informasi yang berbasis data dan insight. Beberapa hal yang sering menarik perhatian media antara lain:

  • Data eksklusif
  • Hasil riset
  • Insight perilaku konsumen
  • Prediksi tren industri
  • Analisis dari expert

Sayangnya, banyak brand hanya mengirim informasi umum tanpa nilai tambahan. Padahal, data dan insight dapat membuat sebuah cerita terasa lebih kredibel, relevan, dan layak dijadikan berita.

6. Spokesperson Kurang Kuat

Media tidak hanya mencari brand, tetapi juga sosok yang dapat memberikan perspektif dan insight yang kredibel. Sebab itu, positioning founder, executive, atau expert sangat penting dalam strategi PR.

Spokesperson yang kuat dapat membantu media mendapatkan:

  • Kutipan yang insightful
  • Sudut pandang yang relevan
  • Analisis industri
  • Komentar expert terhadap isu tertentu

Semakin kredibel narasumbernya, semakin besar kemungkinan media tertarik melakukan peliputan.

7. Timing Tidak Tepat

Dalam dunia public relations, timing menjadi segalanya. Pitch yang bagus sekalipun bisa gagal jika dikirim di momentum yang tidak tepat. Misalnya, topik tidak relevan dengan isu yang sedang hangat, tidak ada urgency, atau momentum berita sudah lewat.

Media tier 1 cenderung mencari cerita yang relevan dengan apa yang sedang dibicarakan publik saat ini. Oleh karena itu, brand perlu memahami momentum dan tren agar strategi media relations menjadi lebih efektif.


Pada akhirnya, media tier 1 tidak sekadar mencari brand besar atau campaign yang ramai. Mereka mencari cerita yang memiliki nilai untuk audiens. Beberapa hal utama yang biasanya dicari media, antara lain:

  1. Cerita, bukan promosi
  2. Relevansi dengan audiens saat ini
  3. Insight atau perspektif baru
  4. Kredibilitas sumber
  5. Timing yang tepat

Jika brand mampu menghadirkan kelima hal tersebut, peluang untuk mendapatkan exposure di media tier 1 akan jauh lebih besar. Maka dari itu, strategi PR tidak cukup hanya mengandalkan press release. Dibutuhkan storytelling, positioning, media angle, dan pemahaman terhadap kebutuhan media, agar brand dapat tampil lebih relevan, kredibel, dan menarik di mata media besar.

Share this Article
Chatelia
Chatelia
Articles: 153